Sawojajar News- Brebes Night Carnival (BNC) merupakan acara yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Brebes melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dengan tema "BREBES BERES" dan rute yang melintasi Islamic Centre hingga KPT Brebes. Acara ini didanai oleh APBD, yang seharusnya menjadi sarana untuk memajukan kebudayaan lokal yang memiliki sistem nilai budaya dan hidup di masyarakat Brebes. Adanya perberdayaan masyarakat serta melindungi budaya lokal bukan malah memfasilitasi pop culture. Jika dilihat dari narasi carnival yang ada di poster, ada kecenderungan mengutamakan estetika dan hiburan semata, tanpa akar budaya yang sudah melekat di masyarakat tradisi Brebes. BNC berpotensi terjebak dalam logika spektakel yang kehilangan makna substantif, dan terlalu berpihak pada konsumerisme.
Seperti carnival pop pada umumnya, BNC berisiko mengurangi peserta menjadi sekadar maneken hidup yang bergerak sesuai narasi kuratorial penyelenggara. Kostum mewah dan parade yang dirancang untuk menarik perhatian media bisa mengabaikan aktualisasi diri peserta. Jika peserta hanya dijadikan objek visual tanpa diberi ruang untuk mengekspresikan identitas atau gagasan pribadi, maka carnival ini hanya menjadi ajang elitis yang jauh dari semangat inklusivitas.
Penggunaan tema "BREBES BERES" dan slogan "BUDAYA BREBESKU" berpotensi mengubah kebudayaan lokal (kalau pun ini ada dan dikasih ruang untuk tampil) hanya menjadi komoditas pariwisata belaka. Jika motif tradisional atau simbol-simbol khas Brebes hanya dipakai sebagai pemanis visual tanpa pendalaman makna filosofis, tanpa memperhatikan dan bahkan melindungi para pengrajin batik di Brebes, maka BNC hanya menjadi simulakra (Baudrillard) yang lebih mementingkan citra daripada substansi. Citra palsu yang merubah arah kebudayaan menjadi komoditas semata.
Sebagai acara yang dibiayai APBD, BNC seharusnya melibatkan partisipasi aktif masyarakat, terutama kelompok marginal dan arus besar di dalam masyarakat Brebes seperti petani, nelayan, atau pengrajin tradisional Brebes. Bukan malah melibatkan seniman (an-sich) yang nota bene karyanya pun tidak mewakili nilai lokal ke-Brebesan. Jika penyelenggaraannya hanya didominasi oleh birokrasi, seniman pop, desainer profesional tanpa melibatkan proses kurasi demokratis, maka carnival ini hanya menjadi proyek pemerintah yang tidak menyentuh akar persoalan kebudayaan Brebes.
Carnival pop cenderung menghindari tema yang nyata ada di Brebes seperti kesenjangan ekonomi atau kerusakan lingkungan di Brebes misalnya masalah alih fungsi lahan pertanian, kendala di nelayan Brebes masalah harga hasil tangkapan ikan, yang dimainkan para tengkulak. Begitu juga seniman tradisi yang sama sekali tidak mendapatkan perlindungan dan perhatian. Nilai-nilai tradisi bergeser dari nilai spiritual menjadi nilai material yang seharusnya pemangku kebijakan memfasilitasi dan melakukan perlindungan terhadap keberlangsungan hidup seniman dan kesenian tradisi. Bukan malah menjejalkan kesenian pop culture yang berorientasi pada pasar dan materialistis. Jika BNC hanya menampilkan kemeriahan tanpa menyentuh isu riil masyarakat, maka ia gagal menjadi medium refleksi sosial. Bandingkan dengan Seni Kejadian Berdampak Save RTH Bumiayu, yang menggunakan carnival (baca Seni), untuk protes lingkungan dan melindungi hak warga tentang Ruang Terbuka Hijau .
Atas rasa keprihatinan ini, saran saya untuk BNC agar lebih bermakna bukan sekadar hiburan dan perayaan, lebih menyentuh persoalan kebudayaan yang subtanstif. BNC mesti melibatkan partisipasi sanggar dan kesenian tradisi dan seniman lokal. Melibatkan warga dalam proses kreatif, bukan hanya sebagai penonton atau peserta pasif. Menghidupkan nilai-nilai filosofis Brebes, melalui cerita rakyat, tradisi pertanian, atau kearifan lokal dalam tema carnival.
BNC yang mengunakan dana APBD seharusnya digunakan untuk pemberdayaan, bukan hanya seremonial dan karnaval-karnavalan. Perlu memasukkan isu-isu aktual Brebes misalnya pelestarian pantai atau perlindungan petani bawang ke dalam parade. BNC memiliki potensi untuk menjadi ruang ekspresi kebudayaan yang inklusif dan berpihak pada masyarakat kebanyakan. Namun, jika hanya terjebak dalam logika carnival pop yang spektakuler tetapi kosong, ia hanya akan menjadi pemborosan APBD yang tidak berdampak pada masyarakat. Pertanyaannya maukah Pemda Brebes mengubah BNC dari sekadar tontonan menjadi medium yang benar-benar "BERES" secara substansi?
Sebuah puisi berbunyi
KALIAN
pun.
Hendri Yetus Siswono
Dukun Sosial Kemasyarakatan, Penyair tinggal di Brebes

