Ini kali tulisan tidak akan membicarakan pop culture seperti tulisan sebelumnya, sehingga tidak perlu repot mengutip Adorno atau pun Benjamin. Saya hanya akan tunjukkan bukti visual pergeseran subtansi dari Festival Bawang Merah ke Festival hiburan pop tanpa makna. Dominasi hiburan pop yang mengubur esensi Festival Bawang Merah.
Pada awal pembentukannya Festival Bawang Merah dirancang untuk mengangkat produk & budaya Brebes, bukan jadi panggung promosi artis luar. Mengundang band seperti Ungu, The Bagindas (yang tak terkait Brebes) sama saja mengubah event jadi panggung hiburan pop. Festival yang seharusnya mempromosikan identitas lokal justru mengimpor hiburan dari luar Brebes.
Begitu poster ini kubaca, maka judul paling dominan adalah FESTIVAL ANTV RAME, lalu foto terpajang paling besar adalah band pop Ungu, kemudian daftar panjang artis pop, Pongki Barata, D'Bagindas, dll, memakan 75% ruang poster. Sedangkan "Festival Bawang Merah" meskipun ditulis di pojok kanan paling atas, namun ditulis kecil seolah hanya tempelan saja, ia menjadi subtansi yang tersisihkan. Padahal seyogyanya harus menjadi fokus utama. Acara ini hanya membesarkan segi hiburan Pop. Ada 20-an nama artis non-lokal dipromosikan secara bombastis.
Sedangkan Kegiatan Bawang, Kontes/Ekspo Bawang Merah, Pawai Gunungan Bawang hanya tercantum sebagai bullet point tanpa ilustrasi. Di poster mengklaim Gerakan Pangan Murah, tapi anggaran besar justru dialokasikan untuk bayaran artis pop nasional yang bisa mencapai ratusan juta per penampil. Ini jelas ironi yang dipamerkan secara kasat mata.
Nama "Festival Bawang Merah" hanya dijadikan alat legitimasi untuk event hiburan komersial. Konser pop yang tidak ada kaitannya dengan promosi bawang. Ini jelas semacam penipuan identitas, dan mengkerdilkan nama festival Bawang Merah. Kalau boleh kusebut ini semacam pembajakan nama. Nama Bawang Merah Brebes hanya dijadikan alat branding untuk mendatangkan sponsor/pengunjung sementara substansi yang berhubungan dengan pertanian bawang jadi sekadar tempelan.
Dalam poster terbaca tidak ada Musisi Brebes yang tampil. Seniman tradisional, Jalawastu hanya dicantumkan sebagai "Happening Art" tanpa detail, hanya sekadar pemanis. Sedangkan Petani Brebes hanya muncul di "Kontes Bawang" tanpa porsi promosi memadai. Pelapasan Container Ekspor Bawang" yang di 2024 jadi acara utama, kini ditempelkan sebagai item sampingan di antara lomba cosplay dan balap karung.
Kalau acara ini bertajuk Festival Bawang Merah maka target audiens dari acara ini bisa jadi salah sasaran. Penonton yang datang pasti didominasi fans artis, bukan pembeli/pengusaha yang bisa mengembangkan pasar bawang Brebes. Lomba mewarnai dan cosplay tidak menyentuh nilai pertanian Brebes, sementara proses budidaya bawang yang penuh kearifan lokal diabaikan.
Poster ini adalah bukti nyata pembajakan identitas budaya oleh kepentingan komersial. Alih-alih memajukan Bawang Brebes sebagai brand, justru yang diangkat adalah brand artis pendatang. Lagi lagi panitia penyelenggara menunjukkan bermental Inlander, tidak bangga dan percaya dengan seniman lokal.
Cukuplah kota tetangga saja yang begitu, selalu merasa top bila sudah mengundang artis pop nasional. Brebes saya kira tidak perlu ikut-ikutan, toh musisi lokal juga banyak yang berkualitas jauh di atas para anak band yang ada di poster. Ketika gunungan Bawang Merah dikerdilkan oleh panggung artis, yang hilang bukan hanya tradisi, tapi martabat sebuah kota Bawang.
Jika terus begini, seniman lokal akan teralienasi dan juga petani bawang akan makin asing dengan festivalnya sendiri. Brebes kehilangan peluang jadi icon agrikultur, Festival Bawang Merah kehilangan makna dan subtansinya. Festival berubah jadi tontonan generik, yang sudah umum diadakan di kota mana pun. (*)

