Oleh: Patuh AM
Sebelum mengurai Hendri lebih jauh bersama dengus kritik-resah yang ia himpun dalam bait-bait puisinya, saya terlebih dahulu akan menguntai beberapa helai arti, nilai, serta makna terkait angin kumbang bagi hidup, kehidupan dan penghidupan masyarakat tani; bahwa sudah menjadi tradisi bagi petani di Brebes Utara tidak menggunakan istilah ‘pancaroba’ melainkan mangsa kumbang sebagai penyebutan fase peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Terlibih ada beberapa golongan tertentu dari kalangan petani bawang merah yang memiliki cara hitung tersendiri dalam membagi fase musim, yaitu awal-tengah-akhir. 1)Fase-awal disebut Mangsa Kumbang atau musim pertama; fase dimana petani mendapat seruan angin yang turun dari Gunung Kumbang untuk segera memulai proses menanam bawang. Ini berlangsung sekitar bulan Sura, Sapar hingga Mulud dalam kalender Jawa; 2)Fase-tengah disebut Mangsa Rendheng atau musim penghujan; fase dimana sebagian petani beralih menanam padi dan sebagian lagi tetap menanam bawang memanfaatkan sisa-sisa hembusan angin kumbang. Ini berlangsung sekitar bulan Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb hingga Ruwah; 3)Fase-akhir disebut Mangsa Ketiga atau musim kemarau; fase dimana petani terbagi tiga pilihan menanam, yaitu tanaman palawija, tanaman padi, dan yang tetap bertahan dengan tanaman bawang merah. Ini berlangsung sekitar bulan Pasa, Sawal, Apit hingga Aji. Ketiga fase ini mengikat erat pola hidup masyarakat Brebes Utara dalam bertani, khususnya terkait siklus angin kumbang sebagai ‘kode alam’ yang terurai menjadi pengetahuan terhadap laku keseharian untuk keselamatan hidup-berkehidupan.
Di dalam khasanah tradisi praktik ilmu pengetahuan dari nenek-buyut, cara petani bawang merah dalam menumbuhkan dan meluaskan pandangannya tentu berbeda dengan cara BMKG menguraikan data saintifiknya tentang angin kumbang. Petani meyakini Gunung Kumbang menghembuskan angin ini secara langsung, secara magis, merayapi dataran tanah-tanah pertanian mereka, untuk dimaknai sebagai sumber pengetahuan, kemudian diartikulasikan lewat cara-cara bercocok tanam dengan penuh kearifan. Angin kumbang yang berhembus datang menyeru dianggap sebagai berkah dan karunia, menjadi simbol dan tanda alam yang kerap dimaknai secara khusus melibatkan aspek spiritual mereka. Misalkan, dipertengahan mangsa kumbang terdapat satu tradisi Mayoran Blengong (1) yang digelar saat kapasasur (2). Tradisi ini dilakukan sebagai ritus doa dan ungkapan rasa syukur karena biji bawang dan daunnya sudah memperlihatkan tandatanda kesuksesan saat hari panen nanti. Begitulah para petani bawang merah di dalam cara memandang, cara menilai, cara berpengetahuan, cara-cara yang diwariskan, di dalam laku kearifan, disepanjang mangsa kumbang!Setidaknya itulah yang kerap dilakukan di jaman nenek-buyut hingga ibu, tetapi semakin hilang di jaman sekarang. Karena hari ini Angin kumbang memang masih canggih dalam mengusir serangga-serangga hama tanaman bawang, tetapi tidak untuk melindungi dari ulat daun dan virus iklim karena kalah oleh racun pestisida yang menyengat. Belum lagi pupuk urea yang semakin mengkontaminasi tanah— alih-alih mempercepat pertumbuhan biji bawang, kemurnian-kesuburan tanah malah jadi korban. Belum lagi dampak perekonomian yang dirasakan akibat harga pestisida yang terus meningkat mahal tak berimbang dengan fluktuasi harga bawang itu sendiri. Belum lagi berurusan dengan laku perampasan lahan pertanian dari pabrik-pabrik serta limbahnya yang mencemari udara dan tanah pertanian. Belum lagi harus menghadapi tantangan ritme kebijakan (zalim) jangka panjang ditingkat lurah, bupati, mentri, hingga presiden. Belum lagi, belum lagi, lagi-lagi belum.
Sinestesia Mangsa Kumbang; Angin yang Kehilangan Arah
Di Brebes Utara, angin kumbang dahulu adalah seruan alam yang memberi pertanda bagi petani bawang merah. Ia bukan sekadar angin yang merembes turun dari Gunung Kumbang, tetapi juga bahasa yang diartikulasikan menjadi ritme kehidupan, siklus tanam yang diwariskan dari nenek-buyut. Mangsa Kumbang bukan hanya sebutan musim, melainkan sebuah pengetahuan intuitif, kode yang menuntun petani pada keselarasan dengan alam. Namun kini, angin itu kehilangan arah, terkalahkan oleh pestisida, regulasi, dan kerakusan pasar.
…
delapan mata angin menderudera
mengusap panjang daun bawang
panas lidahnya mencium
kutu dan cendawan fusarium
lara luruh hama alum
…
memanggang maksud busuk
dan segala niat busuk
semburan panas ari mulutnya
metafora berkah sekaligus alegori murka
(Angin Kumbang: 28-29, Hendri, 2025-Poesis Meta)
Pestisida pestisida pestisida
…
Angin kumbang turun menyergap
Mengusap daundaun bawang
Menyapa residu tanah sekarat
(Kota Penghisap Pestisida: 40, Hendri, 2025-Poesis Meta)
di dalam iklan dan baligo
juga programa pemerintah
bawang tercium wangi kehidupan
adalah yang terbaik dalam rasa
sedang kami terus dianjurkan
memperkosa tanah mentuba udara
tanpa kearifan lokal
tanpa kreasi
warisan leluhur budaya cocok tanam
(Serenada Kami: 48-49, Hendri, 2025-Poesis Meta)
Dari tiga judul puisi di atas adalah alegori dari kearifan lama yang perlahan-lahan terkikis. Dulu, para petani membaca humbusan angin kumbang sembari mencermati pertumbuhan daun dan biji bawang, merasakan tanah dengan jemari mereka sendiri. Kini, mereka harus tunduk pada harga pupuk yang mencekik, kebijakan impor yang tidak berpihak, serta mekanisme pasar yang menjadikan mereka sekadar roda penggerak dalam industri yang lebih besar. Petani tak lagi focus membaca tanda angin kumbang untuk membimbing laku bertani mereka menuju kesuksesan panen, melainkan sibuk terombang-ambing fluktuasi harga bawang yang diberitakan TV dan mulut-mulut tengkulak tak bernurani.
Dalam citraan visual yang terpampang di baliho dan iklan pemerintah, kehidupan petani digambarkan penuh kegigihan dan keberhasilan. Namun, di balik propaganda tersebut, kesejahteraan yang dijanjikan tak lebih dari sekadar ilusi. Petani tetap terjerat dalam lingkaran kemiskinan yang sistematis, di mana mereka dipaksa bergantung pada pupuk bersubsidi, pestisida, dan program bantuan sosial yang justru memperpanjang keterpurukan. Metafora ‘naga purba’ dapat dimaknai sebagi kekuatan tradisi dan keseimbangan ekosistem yang kini perlahan berubah menjadi mitos. Jika dahulu petani percaya bahwa Gunung Kumbang menghembuskan angin untuk memberi kehidupan, kini kalah oleh asap pabrik, oleh limbah industri yang mencemari ladang, oleh kerakusan yang menyamar sebagai pembangunan. Yang dulu disebut berkah, kini berubah menjadi luka.Sastra telah lama menjadi saksi dan suara bagi mereka yang terpinggirkan. Seperti Chairil Anwar yang bersuara lantang dalam puisinya tentang keterasingan dan perjuangan, seperti W.S. Rendra yang menelanjangi kebobrokan sistem lewat kata-kata, puisi ini pun berteriak tentang ketidakadilan yang dialami para petani. Ia adalah potret dari tragedi yang tak hanya terjadi di Brebes, tetapi di banyak tempat di negeri ini, di mana modernisasi-industrialisasi tak selalu berarti kemajuan bagi mereka yang hidup dari tanah dan angin.
Kini, angin kumbang masih berhembus. Tapi ia tidak lagi membawa harapan seperti dulu. Ia berusaha menembus kepulan asap industri, berbisik pada tanah yang mulai kehilangan kesuburannya, dan bertanya dengan getir: apakah petani masih memiliki masa depan di tanah yang semakin terjajah oleh tangan-tangan tak kasat mata? Lalu, siapa yang akan mendengarkan suara mereka? Apakah hanya puisi yang tersisa sebagai saksi?
Kedok Empati Bagi Petani
::Sebuah Paradoksal Kerja Bupati
Membaca angin kumbangnya Hendri bukan sekedar menerka makna teks, melainkan menyusur konteks: mengeja setiap situasi monopoli hasil tani, merasakan geliat selera kebijakan bupati tanpa rasa empati. Lewat puisi ini Hendri mendenguskan keresahan dan pengetahuan, menjamah faktor eksternal— alasan mahalnya ongkos produksi— yang tak sebanding hasilnya untuk petani membeli nasi. Dipaksa untuk tahan kondisi, tetap berdiri di pematang frustasi.
…
“kemiskinan harus segera dientaskan
mengatasi kemiskinan harus
memiliki strategi dan kesabaran
maka bersikaplah lentur
kita musti seliat karet”
sodara mesti bersabar
ayo antri bansos
dan ojo lali lho pilih saya
(Derita dalam Berita: 66-67, Hendri, 2025-Poesis Meta)
Ketimpangan ekonomi semakin kentara ketika hasil jerih payah petani dieksploitasi demi kepentingan politik dan citra pemimpin daerah. Produksi bawang merah yang melimpah sering kali tidak diiringi dengan kesejahteraan yang merata. Harga jual yang dikendalikan tengkulak dan mafia pertanian membuat petani tak punya kuasa atas hasil panen mereka sendiri. Mereka hanya dijadikan alat statistik untuk menunjukkan keberhasilan program pertanian daerah, sementara mereka sendiri tetap berkutat dalam kesulitan ekonomi. Di sisi lain, kebijakan impor bawang merah yang tidak terkendali kerap membuat harga bawang lokal anjlok. Alih-alih melindungi petani, kebijakan ini justru menguntungkan importir dan pemodal besar. Ironisnya, dalam berbagai kesempatan, pejabat daerah tetap menjual narasi kemandirian petani seolah-olah mereka menikmati hasil dari kebijakan yang sebenarnya hanya menguntungkan segelintir pihak. Masalah ini diperparah dengan ketergantungan petani pada pupuk dan pestisida kimia yang terus meningkat. Tanah yang dulu subur kini semakin kehilangan daya tahannya akibat eksploitasi tanpa batas. Program kearifan lokal dalam pertanian berkelanjutan tak lagi menjadi perhatian, digantikan oleh praktik agribisnis yang mengabaikan ekologi dan keberlanjutan lingkungan. Dalam kondisi ini, petani semakin tersudut: di satu sisi mereka dipaksa terus memproduksi, di sisi lain mereka tak punya daya untuk menentukan harga dan kesejahteraan mereka sendiri.
Di Brebes, fenomena ini bukan sekadar anekdot. Data menunjukkan bahwa meskipun Brebes dikenal sebagai lumbung bawang merah nasional, tingkat kemiskinan di kalangan petani masih tinggi. Sementara itu, kepala daerah dan para pemangku kebijakan terus meraup keuntungan politis dari produksi pertanian yang mereka klaim sebagai keberhasilan pemerintah daerah. Mereka yang berada di puncak kekuasaan menikmati popularitas, sedangkan para petani tetap berjuang di garis bawah, terhimpit oleh sistem yang tidak adil. Ini adalah sekandal besar yang harus terus diungkap!
Maka, "kedok empati" ini menjadi ironi yang menyakitkan. Para petani yang seharusnya menjadi pilar kedaulatan pangan justru terus dikebiri oleh sistem yang tak memihak. Jika pola ketimpangan ini terus berlanjut, pertanian yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan justru akan menjadi lahan subur bagi kemiskinan yang semakin mengakar.
Kini, pertanyaannya bukan lagi bagaimana pemerintah menggambarkan petani dalam baliho atau iklan. Yang lebih mendesak adalah bagaimana kebijakan bisa benar-benar berpihak pada mereka yang bekerja keras menanam dan memanen, bukan hanya menguntungkan segelintir elite yang hanya tahu berpose di depan kamera, baliho dan papan reklame.
Konteks Tani dan Persinggungan Karya Sastra
Dari beberapa judul dalam Kumpulan Puisi Angin Kumbang karya Hendri Yetus Siswono, saya menemukan relevansi yang kuat dengan karya dua penyair ternama Indonesia yang juga menyoroti penderitaan kaum tani, yaitu W.S. Rendra dan Taufiq Ismail. Kedua penyair ini telah lama mengangkat isu ketimpangan sosial dan ketidakadilan dalam karya-karya mereka yang tajam dan penuh kritik sosial-politik. Dalam puisinya yang terkenal, Sajak Seonggok Jagung, W.S. Rendra menggambarkan absurditas sistem ekonomi yang tidak berpihak kepada petani kecil. Rendra menyoroti bagaimana petani sering kali tidak memiliki kendali atas hasil kerja mereka sendiri, yang sejalan dengan kondisi petani bawang merah di Brebes saat ini. Rendra menggambarkan bagaimana produk pertanian, seperti jagung, bisa berlimpah tetapi tidak menjamin kehidupan yang layak bagi petaninya. Begitu pula dalam beberapa puisinya Hendri, petani Brebes menghadapi eksploitasi yang serupa, di mana keberlimpahan bawang merah tidak membawa kesejahteraan bagi mereka.Sementara itu, dalam Tirani dan Benteng, Taufiq Ismail terdapat sinergitas yang mengungkapkan keresahan erhadap sistem penindasan rakyat kecil, termasuk petani. Taufik berbicara tentang dominasi kekuasaan yang mengabaikan nasib kaum miskin dan bagaimana kebijakan sering kali hanya menguntungkan segelintir elite. Hendri menggemakan realitas petani Brebes, yang meskipun digambarkan sebagai ikon sukses pertanian nasional, tetap harus antre pupuk, bergelut dengan tengkulak, dan hidup dalam kemiskinan yang terus dipelihara oleh sistem.
Dari sudut pandang kesusastraan, puisi yang mengangkat tema agraria sering kali berfungsi sebagai kritik sosial yang kuat. Sastra bukan sekadar refleksi kehidupan, tetapi juga alat perlawanan terhadap ketidakadilan. Seperti yang dilakukan Hendri, puisi bukan hanya sekadar menggambarkan penderitaan petani, tetapi juga mengajukan gugatan moral kepada para pemangku kebijakan. Sehingga karya sastra menjadi saksi sekaligus perekam sejarah atas kebijakan yang gagal membawa kesejahteraan bagi rakyat kecil. Ironi dalam kehidupan petani Brebes adalah cermin dari ironi yang telah lama diungkapkan dalam sastra Indonesia. Hingga kini, puisi dan karya sastra masih menjadi medium yang ampuh untuk mengangkat suara mereka yang tertindas, ketika suara mereka sendiri sering kali diabaikan oleh sistem yang lebih memilih citra daripada kenyataan.
Desa Tengki, 26 Februari 2025
