Setelah berjam-jam membaca beberapa buku di Perpustakaan Daerah, dahaga mencabik-cabik tenggorokan Dimas membuat ia tidak dapat berkonsentrasi mencerna kalimat yang masih dibacanya. Akhirnya ia pun menutup jendela dunia itu dan keluar dari tempat yang menurutnya nyaman untuk menghabiskan waktu luang. Dimas menuju warung yang tidak jauh dari Perpustakaan Daerah untuk membeli air minum agar kekeringan di tubuhnya lekas basah kembali. Matahari mengambang di langit tepat di atas kepala, memanggang otak yang telah dipupuk oleh kalimat-kalimat bernas. Setibanya di warung, Dimas duduk beristirahat sembari melihat keindahan taman kota, menikmati pekikan klakson kereta dan menunggu sengatan terik matahari sedikit tumpul agar tidak terpanggang sepanjang perjalanan pulang. Sekian lama Dimas duduk, matahari perlahan merayap ke barat dan saatnya bergegas pulang. Namun ketika hendak bangkit dari tempat duduknya, Dimas melihat gadis cantik berkerudung merah muda yang tidak asing oleh matanya keluar dari mulut tasiun kereta.
“Nurul!” sapa Dimas dengan suara lantang. Namun suara itu terdengar semacam suara sumbang yang membuat Nurul tampak kebingungan, sorot matanya tajam tertuju ke segala arah mencari orang yang memanggil namanya dari kejauhan. Dimas yang masih duduk pun segera bangkit menghampiri Nurul di pintu masuk stasiun agar rasa penasaran kepada orang yang memanggilnya tertunaikan.
“Hai, Nurul.” Dimas menyapa dari belakang Nurul.
“Hai, Dimas ya?” sahut Nurul dengan senyuman yang merekah.
“Iya, Dimas. Masa kamu lupa.”
“Ah, tidak. kamu tadi yang memanggil aku, Mas?”
“Iya, aku tadi yang memanggil.”
“Oh, aku kira siapa.”
“kamu tampaknya lelah, sebaiknya istirahat dulu.”
“Hmm, ide bagus.”
Mereka pun menuju warung tempat Dimas membeli air minum untuk sekedar melepas rasa lelah Nurul setelah menempuh perjalanan jauh duduk di kereta sembari bercakap-cakap menghayati pertemuan mereka.
“kamu habis darimana, Rul?” tanya Dimas.
“Aku dari Yogyakarta mau pulang, Mas.”
“Lho, kok pulang, ada keperluan apa?”
“Anu, Mas. Mau observasi di desa.”
“Sendirian apa dengan teman?”
“Sendirian, kamu tahu sendiri lah aku orangnya bagaimana.”
“Haha, dasar introvert.” ejek Dimas, disusul cubitan Nurul membuat Dimas mengerang.
Suasana mulai cair, Dimas yang memiliki selera humor tinggi menciptakan senyum di bibir Nurul bahkan tertawa terbahak-bahak sampai wajahnya memerah menyerupai buah delima yang ranum sebab candaan Dimas yang menggelitik itu.
“kamu mau minum apa, Rul?”
“Air mineral yang dingin.”
“Nihhh!” Dimas menjulurkan tangannya memberikan satu botol air mineral kepada Nurul.
“Terimakasih, Mas.” ucap Nurul ditambah senyum yang membuat matanya tertutup.
“Iya, sama-sama. kamu mau dijemput siapa?” tanya Dimas penasaran.
“Tidak ada yang menjemput. Di rumah sepi, mau tidak mau harus naik bus.”
“Kalau begitu aku antar naik skuterku ya, mau tidak?”
“Tidak usahlah, aku tidak mau merepotkan orang lain.”
“Ah, tidak sama sekali. Lagi pula kan aku yang menawarkan.”
“Baiklah, kebetulan juga ongkosku sudah menipis.” ucap Nurul dengan malu-malu.
“Mau diantar naik skuter aja aku sudah senang kok, tidak sedikit kan perempuan yang gengsi naik skuter dibonceng laki-laki. Bukan hanya karena kendaraannya yang usang, tapi juga karena skuter itu mogokkan." sindir Dimas sambil menghisap rokoknya.
“Tapi aku bukan perempuan yang kamu maksud itu.” balas Nurul agak jengkel.
“Iya, aku percaya. Ya walaupun aku mengenalmu belum lama.”
Mereka adalah teman semasa di pesantren dan saling kenal ketika menjadi panitia di acara kelulusan angkatannya. Padahal Dimas sudah mengenal Nurul jauh sebelum Nurul mengenal Dimas. Bagaimana tidak, perempuan yang elok berwajah cantik dan bermata sipit dengan bulu mata yang lentik itu adalah perempuan idaman bagi setiap laki-laki yang menatapnya. Karena kecantikan wajah dan akhlaknya Nurul menjadi perempuan incaran banyak santri putra pada masa di pesantren, termasuk Dimas. Ia sudah jatuh hati kepada Nurul sejak berpapasan di depan komplek putra dan merasa cemburu ketika teman sekamarnya diketahui berpacaran dengannya, sejak itulah Dimas mencintai Nurul dalam diam hingga pertemuan itu pun perasaannya belum juga hilang.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Sudah agak enakan badannya kok. ”
“Jadi mau pulang kapan nih?”
“Sekarang juga boleh.”
“Baiklah, kita berangkat sekarang.” Dimas bangkit dari tempat duduk menuju tempat parkir skuternya, begitu juga Nurul. Mereka berjalan berdampingan di trotoar jalan menyisir daun-daun yang berguguran.
“Sudah?” tanya Dimas yang sedang menaiki skuternya.
“Sudah, Mas.” jawab Nurul membonceng Dimas.
“Kok belum turun, katanya sudah?”
“Maksudnya sudah naik!” bentak Nurul sambil menyubit pinggang Dimas.
“Ahhh, sakit tahu.” jerit Dimas kesakitan.
“Ya sudah cepat berangkat, hobi banget bikin jengkel anak orang.”
“Haha, daripada nyulik anak orang.” ejek Dimas sambil menancap gas skuternya.
Dengan laju lamban, mereka menikmati perjalanannya dengan melihat kanan dan kiri perubahan kota yang mulai angkuh, gedung-gedung yang mencakar langit, beton-beton yang tumbuh subur dan rakyat miskin yang bergerombol di lampu merah. Itu adalah pemandangan yang sudah lama menghiasi kota, sehingga mereka pun tidak kaget dan merasa terganggu dengan hal itu. Sepanjang perjalanan di kota, keheningan menyelimuti. Tidak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka. Sampai memasuki jalan yang membelah sawah, mulut Dimas seketika mengeluarkan suara yang membuat keheningan itu pecah.
“Nurul!”
“Iya, ada apa, Mas?”
“Ini benar kan jalan menuju rumahmu?”
“Benar.”
“Nanti kalau di depan mau belok bilang ya!”
“Ah, bukannya kamu pernah main ke rumahku.”
“Iya sih, tapi kan itu tiga tahun yang lalu, sudah lama.”
“Baru tiga tahun, menurutku tiga tahun bukan waktu yang lama. Apalagi hanya untuk mengingat sebuah peristiwa bagi anak muda sepertimu, pasti masih tersimpan baik dalam ingatan. Kalau sudah lupa berarti tandanya sudah tua, pikun!” terang Nurul dengan nada mengejek.
“Maklumlah namanya juga manusia, muda atau tua pasti pernah lupa.” tegas Dimas.
“Haha, tumben mengalah biasanya dilawan.” tawa lepas Nurul membuat hati Dimas tersentak dan terpana mendengar perempuan yang sudah lama dicintainya dalam diam tertawa lepas di atas motor tuanya.
“Mas, Dimasss!” panggil Nurul.
“Eh, ada apa?”
“Kenapa bengong, ngantuk?”
“Tidak, aku cuma tidak menyangka bisa mendengarmu tertawa.”
“Ah, dasar jantan! Nanti di depan ada pertigaan belok kanan.”
“Siap, Permaisuri!”
“Permaisuri mbahmu!” ucap Nurul salah tingkah.
Setelah menyusuri jalan desa yang berkelok ditambah lubang-lubang yang dibiarkan menganga seakan ingin melahap pengendara yang melintas, mereka pun tiba di rumah Nurul. Dimas seketika teringat peristiwa pada tiga tahun silam yang abadi bersemayam di tempurung kepalanya, dimana ia bersama teman-teman pesantrennya berkunjung ke rumah Nurul disambut dengan hangat oleh tuan rumah dan disuguhi kudapan khas daerah pedesaan. Dan peristiwa itu merupakan peristiwa pertama kalinya Dimas sangat dekat secara fisik dengan Nurul, karenanya ia terus memandang keteduhan parasnya dan mengamati gerak-gerik tubuhnya, seakan itu adalah peristiwa yang istimewa dan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan begitu saja sehingga membuat perasaan yang telah lama dikubur dalam-dalam semakin memberontak ingin muncul ke permukaan. Tidak ingin tenggelam dalam kenangan itu, Dimas segera menyusul Nurul yang sudah berjalan mendahuluinya. Ada seorang Ibu yang duduk di kursi teras sedang menikmati teh, melihat kedatangan mereka Ibu itu segera bangkit menyambutnya.
“Assalamualaikum, Bu.” ucap salam bersamaan.
“Waalaikumsalam. Eh Nurul, siapa ini?” balas Ibu menyalami mereka.
“Maaf, saya Dimas temannya Nurul waktu di pesantren, Bu.”
“Oh, temannya Nurul. Mari masuk.” ajak Ibu.
Dimas yang belum mengenali Ibu pun bertanya kepada Nurul.
“Rul, Ibu tadi itu siapa?”
“Dia itu Ibuku, memang waktu kamu main kesini tidak bertemu?”
“Iya, tidak bertemu. Kan waktu itu rumahmu sepi hanya ada kakak kamu.”
“Oh, iya lupa.”
“Ternyata cantiknya tidak beda jauh sama anaknya yah.”
“Pastilah, namanya juga anak kandung bukan anak tiri apalagi anak pungut.”
“Haha, penting bukan anak haram.” tawa Dimas sambil membungkam mulutnya.
Dimas duduk di sofa sambil melihat foto-foto yang menempel di dinding ruang tamu, sedangkan Nurul pergi ke kamar meletakkan tas ransel yang melekat di punggungnya selama dalam perjalanan. Ibu Nurul datang dari kamar yang berada di belakang rumah menghampiri Dimas ikut duduk di sofa ruang tamu mengenakan gamis yang berhias manik-manik dan bercorak bunga-bunga merambat sehingga membuat tampak anggun walaupun usianya sudah lanjut. Memang jika dilihat dan diamati, keluarga Nurul ini mempunyai kelebihan paras yang cantik dan tampan mulai dari Bapak dan Ibunya hingga Kakak dan Adiknya. Inilah salah satu sebab yang mengubah Dimas menjadi seorang pesimis untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nurul. Bukan hanya karena soal tampangnya Dimas yang pas-pasan, tapi juga perihal perekonomiannya yang masih berantakan.
“Rumahmu dimana, Mas?” tanya Ibu Nurul.
“Di Desa Harjosari, Bu.” jawab Dimas dengan sopan.
“Oalah, jauh yah. Kok bisa mengantar Nurul sampai rumah, sudah janjian?”
“Tidak, Bu. Tidak sengaja tadi bertemu di stasiun, kebetulan kata Nurul tidak ada yang menjemput karena di rumah lagi sepi jadi aku antar.” terang Dimas.
“Oh, begitu. Mau minum apa, Mas?” tanya Ibu Nurul.
“Tidak usah, Bu. Aku saja yang akan membuatkannya kopi, dia itu kan penikmat berat sama kopi.” cegat Nurul keluar dari dalam kamarnya.
“Baiklah, Kalau begitu Ibu pamit mau kondangan dulu.”
“Kondangan dimana, Bu?” tanya Nurul penasaran.
“Di Bu Lastri. Kalian di rumah saja, kamu pulangnya tunggu Ibu pulang ya, Mas.”
“Maaf, Bu. Di rumah kan sepi, hanya ada kami berdua. Apa tidak masalah?”
“Tidak apa-apa, Ibu percaya kepada kalian, kalian kan pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren walaupun tidak lama, pasti sudah paham hukum agama.”
“Tenang saja, Ibu ini malah suka kalau ada tamu, ini kopimu lagi aku bikin.” imbuh Nurul sambil menyuguhkan kopi untuk Dimas.
Kesunyian pun mengendap di ruang tamu, Dimas dan Nurul berada di dalam rumah bagaikan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Secangkir kopi terhidang menjadi saksi bisu percakapan mereka sekaligus teman keberanian bagi Dimas yang ingin mengungkapkan perasaan yang sekian lama telah ia pendam dalam-dalam. Setelah mereka bercengkrama menceritakan suka duka hidupnya setelah keluar dari jeruji pesantren dengan dibumbui gelak tawa satu sama lain, sedikit demi sedikit obrolan Dimas kepada Nurul mengarah ke pokok obrolan yang lebih serius.
“Rul, aku mau ngomong sesuatu.” ucap Dimas dengan mimik tegang.
“Tinggal ngomong saja, Mas. Tidak usah malu-malu.” balas Nurul tersenyum.
“Sebenarnya..”
Ucapan Dimas terpotong sebab handphone Nurul berdering ada yang menelepon.
“Maaf, tunggu sebentar, Mas. Aku angkat telepon dulu.”
“Oh, Iya. Silakan silakan.” jawab Dimas gugup.
Obrolan Nurul dengan orang yang meneleponnya berlangsung cukup lama, Dimas pun menunggu sembari menikmati kopi yang masih hangat untuk meredakan hatinya yang masih berdegup kencang bagaikan genderang perang dan sesekali melihat-lihat langit di luar rumah yang mulai gelap. Sebenarnya Dimas masih dihantui ragu dan malu untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nurul ketika mereka hanya berdua di rumah yang jauh dari keramaian itu. Namun apa boleh buat, cinta memang perlu keberanian walaupun hasilnya menyakitkan dan saat itu juga adalah waktu yang tepat bagi Dimas untuk mencurahkan isi hatinya. Sekitar dua puluh menit Nurul menelepon, akhirnya handphone Nurul diletakkan di atas meja pertanda meneleponnya sudah selesai.
“Tadi yang meneleponmu siapa, Rul?” tanya Dimas tanpa basa-basi.
“Oh, tadi itu pacarku. Cuma menanyakan sudah sampai rumah apa belum.”
Mendengar jawaban itu terlontar dari mulut Nurul hati Dimas seakan ditusuk belati berulang kali, ia hanya terdiam membendung kesedihan dan kekecewaannya. Tampak mimik wajah yang seketika datar, dalam hati Nurul memunculkan tanda tanya.
“Heh, kamu kenapa? Katanya mau ngomong sesuatu.” tanya Nurul.
“Tidak apa-apa,” lanjutnya “Cuma mau bilang sebenarnya ini sudah mulai sore dan di rumah aku masih ada urusan lain. Aku pulang dulu ya, tolong sampaikan maaf untuk Ibumu karena aku tidak bisa menunggunya sampai pulang.” ungkap Dimas masih murung.
“Lho, kok mendadak aneh gitu sih?”
“Sudah sore, Nurul! Motorku lampunya mati, nanti kalau pulang kemalaman bahaya.”
“Oh, baiklah kalau begitu.” balas Nurul kebingungan.
Akhirnya Dimas mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nurul karena mengetahui ia sudah punya kekasih dan memilih untuk cepat pulang. Nurul yang tidak mengerti tentang kehancuran hati Dimas pun hanya kebingungan menerjemahkan mimik dan gestur Dimas yang mendadak aneh. Matahari perlahan semakin tenggelam, burung-burung berarakan terbang pulang ke sangkarnya. Di halaman rumah kuno bergaya joglo mereka berpandangan menyambut perpisahan.
“Terimakasih ya, Mas. kamu sudah mengantarku sampai rumah.” ucap Nurul, Dimas hanya mengangguk.
“Hati-hati di jalan.” imbuh Nurul, dibalas senyuman Dimas.
Terlihat oleh Dimas di kaca spion skuternyaNurul melambaikan tangannya melepas Dimas pulang, lagi-lagi Dimas membalasnya hanya dengan senyuman kesedihan. Pertemuan memang seringkali menciptakan kesedihan yang mendalam, apalagi ia bertemu dengan seseorang yang dicintainya dengan rahasia dan tiba-tiba tahu ia sudah ada yang punya. Ia hanya mampu mencintai, ya walaupun kebanyakan orang bilang cinta tidak harus memiliki itu hanya sebuah alibi saja. Ufuk barat semakin memerah darah, Dimas menembus senja tanpa penerangan di motornya sehingga seringkali terperosok di lubang jalan yang menganga dan seringkali membuatnya celaka. Di sepanjang jalan Dimas terus dihantui ucapan Nurul tentang kekasihnya. Kepulangannya membawa hati yang terluka, ia merasa gagal sebagai manusia, ia kecewa dengan dirinya sendiri dan ia seperti pecundang yang sudah dikutuk oleh Dewa Amor agar tidak bisa menjalin asmara dengan wanita yang dicintainya. Waktu pulang terkadang lebih singkat dibandingkan dengan waktu berangkat, Dimas tiba di rumah tepat setelah adzan isya berkumandang, ia langsung memasukkan skuternya ke garasi, mandi dan menunaikan sholat. Tuhan adalah satu-satunya tempat yang tepat untuk bersandar, merebahkan badan dan selalu ada setiap saat untuk makhluknya. Usai menunaikan sholat Dimas duduk bersila, diam termenung bermesraan dengan Tuhan sembari memuji nama-namanya yang agung. Mungkin peristiwa sore tadi tidak mudah untuk dilupakan dalam waktu yang singkat bagi Dimas, sehingga sampai membuat ia tidak bisa tidur dengan gampang seperti hari-hari biasanya. Di dalam kamarnya Dimas duduk di kasur sedang membaca buku, handphone Dimas berdering di sampingnya. Setelah ia lihat ternyata Nurul menelepon, tanpa berpikir panjang Dimas langsung mengangkatnya.
“Halo, assalamualaikum.” ucap salam Nurul.
“Waalaikumsalam, ada apa, Rul? Tumben menelepon.” jawab Dimas.
“Tidak, cuma mau tanya. kamu sudah sampai di rumah, Mas?”
“Sudah.” mendengar pertanyaan itu Dimas seketika teringat pertanyaan kekasih Nurul yang sama pula, membuat suasana kamar menjadi keruh dan sumpek. Dimas pun segera mengakhiri teleponnya sebab masih belum berdamai dengan peristiwa itu.
“Maaf, sudah dulu ya. Aku lagi ada urusan, Assalamualaikum.” pungkas Dimas.
“Iya, Mas. Waalaikumsallam.” Nurul mengucap salam dengan agak jengkel dan tanda tanya pun lagi-lagi hinggap di pikirannya. Kenapa Dimas sikapnya mendadak berubah sejak sore, kenapa Dimas yang humoris menjadi pendiam, kenapa Dimas cepat-cepat menutup telepon padahal yang ingin disampaikannya belum selesai dan tanda tanya lainnya yang terus menerus berseliweran hingga membuatnya susah tidur pula. Bulan sabit bersembunyi di balik megahnya langit malam, bintang-bintang bertebaran, kunang-kunang berhamburan, waktu menunjukkan pukul sebelas malam, akhirnya mereka tertidur setelah kelelahan dipermainkan perasaan dan pikiran. Barangkali mereka bermimpi duduk bersanding di pelaminan, mungkin hanya sinar fajar dari barat yang bisa membangkitkan mereka dari ketenangan ranjang.
Brebes, Juli 2021
NELAYAN
Aris Agraris
Joko adalah sekian dari banyaknya nelayan kecil yang semasa hidupnya bergantung pada kekayaan samudra Pantai Utara Jawa. Sebelum fajar memancarkan kehangatannya, ia berangkat melaut bersama kawan seprofesi menggunakan perahu kecil milik sang juragan. Karena perahu Joko sudah dijual beberapa dekade silam untuk kebutuhan rumah tangganya, maka sekarang ia pun tidak memiliki perahu sendiri. Padahal perahu itu adalah harta semata wayangnya yang menjadi penghasilan untuk menopang kebutuhan hidup keluarga. Namun apalah daya, menjadi seorang buruh nelayan adalah pilihan terbaiknya dibandingkan menjadi seorang juragan nelayan yang setiap waktu dirundung beban pikiran yang seakan tidak pernah absen dari hidupnya. Bagaimana tidak, seorang juragan nelayan kerap kali dihantui kondisi perahu yang sudah terlihat lapuk, mesin kipas tidak mampu berputar maksimal, bahkan di bagian bawah terdapat beberapa lubang yang tanpa diduga memberi jalan masuk air hingga penuh mengisi ruang petak yang seharusnya ditempati peralatan masak, jaring dan ikan hasil tangkapan. Sedangkan penghasilannya pun tidak sebanding dan tidak menentu untuk memperbaiki kerusakan itu semua.
Dari tepi dermaga Joko melepaskan tali yang menambatkan perahu di depan dan belakang, setelah itu ia menyalakan mesin perahu dengan tenaga penuh. Sementara itu, Wage sang pemilik perahu di belakang mengemudikan laju perahu menyusuri sungai hingga muara sampai mengarungi samudra. Waktu masih pagi buta, cuaca dingin disebabkan oleh angin laut mengulum tulang-tulang Joko dan Wage yang memaksa mereka harus mengenakan pakaian tebal berlapis. Suara mesin perahu yang serak-serak basah terus berkelakar memutar kipas dan melawan arus sungai, bau semerbak solar seringkali menerobos lubang hidung mereka yang sudah lanjut usia. Matahari perlahan menampakkan diri, setelah menyantap sarapan mereka menuju ke tengah laut mencari lokasi yang sekiranya disinggahi kawanan ikan-ikan. Jaring segera dibentangkan usai mereka menemukan titik yang banyak ikannya, diulurkannya jaring yang cukup panjang di atas perahu yang terus berlayar dengan lamban.
Beberapa jam mereka menunggu jaring yang sudah terpasang membentang di tengah laut itu, berharap ada banyak ikan yang terperangkap. Mereka pun menuju umbul-umbul tanda ujung jaring untuk ditariknya sembari mengambil satu persatu ikan yang ada. Mesin dimatikan oleh Joko, perahu dibiarkan terombang-ambing diguncang ombak laut yang genit. Melihat tangkapan ikan pada sebaran pertama yang jarang, Wage mengernyitkan dahinya.
“Kok disini dapatnya sedikit ya, Jok. Padahal kan ini tempatnya ikan-ikan bersarang.” ucap Wage sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Kalau seperti ini sebaiknya pindah tempat lain saja, Kang.” balas Joko mmenunjukkan satu ikan di tangan kanannya yang baru saja diambil dari jaring.
“Ya sudah, kita pindah ke timur, Jok.” perintah Wage, tangan kanannya menunjuk ke arah timur yang terlihat dari jauh banyak perahu berkerumun mengapung di atas samudra. “Sudah capek-capek menebar dan menarik jaring malah tidak ada hasilnya. Duh gusti, gusti!” Joko menggerutu sembari merapikan jaring yang sudah ditariknya dari laut.
Mesin menyala, perahu mereka bertabrakan dengan arus yang bergelombang menuju ke arah timur. Terik matahari semakin galak, burung-burung camar bergerombol membuntuti perahu, jilatan angin merangsek ke telinga meskipun sudah ditutupi kaos yang membungkus kepalanya sehingga hanya tampak mata hampir mirip seperti ninja atau perampok rumah mewah yang beraksi pada malam hari. Setibanya di titik yang dituju, Joko segera melemparkan umbul-umbul sebagai tanda yang mengambang dari setiap ujung jaring. Dijulurkannya jaring perlahan-lahan mengikuti laju perahu yang lamban untuk membentangkan jaring itu yang mempunyai panjang kurang lebih tiga puluh meter. Mereka berharap ikan yang terperangkap di sebaran jaring kedua ini tidak seperti pada sebaran jaring pertama, dimana ikan yang terperangkap sebanyak hitungan jari saja. Seperti biasanya, sembari menunggu jaring yang sudah terpasang membentang di samudra menjerat ikan-ikan yang menerjang karena warna jaring yang menyatu dengan warna air laut, mereka pun menanak nasi, meracik kopi dan menyulut rokok bekal yang dibawa dari rumah untuk mengisi perut atau melumat bibir yang mulai kecut. Laut Jawa yang luas dan lepas membendung angin yang melanglang bebas, sehingga ketika akan menyalakan api mereka seringkali kewalahan sampai harus membentuk ruang yang sangat rapat agar tidak disusupi angin sedikit pun.
Air mulai pasang, gulungan ombak semakin meradang, sudah cukup mereka berada di atas perahu menunggu saatnya jaring siap untuk ditarik tiba. Mereka segera mendekat ke umbul-umbul yang labil terombang-ambing digempur ombak dan diterpa angin. Suasana hening, hanya ada suara kecipak air yang membentur badan perahu dan gemuruh angin yang menjamah telinga mereka. Umbul-umbul sudah diangkat ke perahu, Joko menarik sekaligus menumpuk jaring dengan hati yang tenang tidak lepas dari harapan hasil tangkapan kali ini bisa membantu kebutuhan rumah tangga. Di belakang perahu Wage memegang gancu, dengan wajah yang tegang dan bersiap ancang-ancang untuk segera menggancu jika seketika terlihat ada ikan besar yang terperangkap dijaringnya. Perahu kecil dan besar berlalu lalang di sekitar mereka, sesekali mereka disapa oleh teman sekampungnya. Sedepa demi sedepa jaring ditarik oleh Joko dan akhirnya sampai pada ujung umbul-umbul, mereka saling berpandangan dengan raut wajah yang pucat pasi melihat hasil tangkapan di sebaran jaring kedua ini.
“Hmmm, kok tidak jauh beda dengan hasil tangkapan yang pertama yah, Jok.” keluh Wage menghela nafas panjang berdiri di depan kemudi perahu.
“Ya mau bagaimana lagi, Kang. Mungkin ini rezeki kita hari ini.” jawab Joko tenang.
“Iya juga sih, tapi kok kenapa mereka mendapat hasil tangkapan ikan yang melimpah di wilayah ini juga lho.” kata Wage menggelengkan kepala.
“Kalau itu mungkin sudah rezeki mereka hari ini, Kang. Perihal rezeki itu kan sudah menjadi ketentuan gusti dan masing-masing sudah dijatah. Mbok ya tidak usah iri gitu lho, kita syukuri saja rezeki kita hari ini. Barangkali besok atau lusa rezeki kita seperti mereka hari ini kan tidak ada yang bisa menyangka. Roda kehidupan terus berputar, Kang. Tidak selamanya kita berada di bawah begitu juga di atas, wong semuanya sudah diatur kok.” ucap Joko sambil melepas ikan yang masih terjerat di jaring melihat Wage dari tadi menggerutu dengan wajah yang mendung atas hasil tangkapan ikan yang mengecewakan. Mendengar ucapan Joko, Wage yang sedang merapikan jaring pun hanya mengangguk dengan senyuman tanda ia menerima dan memahaminya.
Ikan-ikan yang sudah terlepas dari jaring kemudian dikumpulkan di petak perahu yang di dalamnya terdapat sebuah kotak berisi es balok untuk menjaga kesegaran ikan sampai ke tangan tengkulak. Hasil tangkapan pertama dan kedua dicampur menjadi satu, namun tidak ada setengah pun mengisi wadah tersebut. Mungkin hari ini bukan hari keberuntungan mereka, bagi Joko ini hal yang biasa bagi nelayan kecil ataupun besar. Sebab dari remaja Joko sudah merasakan asam garam di dunia perikanan, bahkan ia seringkali sempat tidak membawa uang selembar pun sepulangnya dari laut. Namun ia tetap sabar dan tegar dalam menekuni profesinya, sudah menjadi resiko yang harus diterima dengan lapang dada apabila kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. Sebelum mesin dinyalakan, Joko melontarkan pertanyaan kepada Wage.
“Kita mau ke arah mana lagi, Kang?”
“Ke barat saja, Jok. Kita pasang jaring sekali lagi, kalau hasilnya lumayan syukur kalau hasilnya sama saja ya kita tetap terima saja lah. Hitung-hitung buat tambahan uang solar dan bekal, semisal ada uang lebih ya kita bagi rata.” jawab Wage terus terang.
“Bagianku tidak usah dipersoalkan, Kang. Yang paling penting juragan balik modal.”
“Ternyata sifatmu ini masih sama seperti Joko yang dulu yah.” ujar Wage menimpali ucapan Joko yang merendah karena lebih mementingkan kepentingan juragannya daripada mementingkan kepentingan pribadinya.
Mesin kembali dinyalakan, asap hitam mengepul dari lubang knalpot, kipas berputar terengah-engah bagaikan hela nafas orang yang baru saja mengikuti lomba maraton. Mereka meninggalkan perahu-perahu kecil yang masih mengerubungi wilayah itu, dengan jiwa yang lapang walaupun ada sedikit rasa yang mengganjal sebab hasil tangkapan dari dua sebaran jaring tadi tidak memuaskan, mereka pun mengikuti arah mata angin yang sejalan dengan arah jalan pulang. Tidak jauh dari wilayah yang akan mereka tuju, mesin perahu tiba-tiba tersendat, laju semakin melambat dan akhirnya mati. Melihat gejala itu, Joko yang berada di samping mesin dengan sigap membuka tutup tangki mesin tersebut. Dan sesuai dugaan, ternyata bahan bakar dalam tangki sudah kering setelah di isi dua liter pada saat sebelum perahu mereka berlabuh. Wage pun mengambil solar yang terletak di belakangnya, di ruang kemudi dan segera ia tumpahkan pada corong yang dikulum mulut tangki mesin. Usai diisi solar oleh Wage, mesin pun segera dikayuh dengan tangan kanan Joko yang kekar dan perahu pun kembali berlayar.
Joko kembali duduk di samping mesin perahu, di bola matanya hanya tampak bentang samudra yang melengkung tanpa ujung. Dikarenakan perahu melawan arus, sesekali air laut memercik ke wajah Joko hingga masuk ke liang mulutnya. Namun ia tetap berada di posisi yang sudah biasa ditempati ketika perahu berjalan. Dengan tatapan yang kosong ia teringat wajah istri dan anak-anaknya yang sudah mulai beranjak remaja. “Hmmm, beras di rumah hanya tinggal segelas, tiga hari lagi tagihan listrik sudah waktunya dibayar, kemarin anak-anak minta uang untuk beli buku sekolah dan bulanan, belum lagi hari ini hasil tangkapan ikan sedikit. Apakah harus hutang lagi sama Juragan Sunar? Ah, hutang seminggu yang lalu saja belum dibayar masa mau hutang lagi, Gusti, Gusti.” gumamnya dalam keadaan duduk melamun dengan tangan kiri yang membelai rambut memikirkan keadaan rumah tangganya sebagaimana tugas kepala keluarga.
Gelombang ombak semakin memuncak di bawah terik matahari yang mulai condong ke barat, perahu kecil yang ditumpangi mereka terus terombang-ambing tatkala mesin dimatikan untuk mempersiapkan jaring yang akan dipasang. Tampak disekelilingnya sudah terdapat beberapa jaring yang sudah terpasang, namun usaha mereka sudah bulat. Walaupun mereka tahu sudah ada nelayan yang mendahului memasang jaring, Wage dan Joko tetap menyeburkan jaring untuk dibentangkan. Perihal hasilnya mereka sudah dipasrahkan kepada dzat yang memberi rejeki dan harapan mendapatkan hasil yang memuaskan tidak pernah padam dalam hati mereka. Sesudah jaring terpasang, kompor pun dinyalakan untuk menanak nasi dan lauknya ikan hasil tangkapan sebelumnya. Sungguh sangat nikmat makan siang di tengah samudra lepas dengan desauan angin dan kecipak ombak hingga air naik sampai ke lantai perahu yang terdiri atas lempengan kayu itu.
Di tengah mereka menyantap makan siang, tampak perahu dari arah barat mendekat dengan laju yang cepat. Ternyata perahu tersebut milik Warjo yang melaut bersama Daslim dan Nanang, mereka adalah tetangga Wage dan Joko yang sama-sama bermatapencaharian sebagai nelayan. Melihat kedatangan mereka, Joko yang sudah selesai makan segera bangkit berdiri menyapanya. Dari mata seorang nelayan yang sudah berpengalaman melihat keadaan perahu dan raut wajah mereka dalam hati Joko menerka, bahwa mereka pun bernasib sama seperti Wage dan Joko, membawa pulang hasil tangkapan ikan yang jumlahnya sedikit dan harganya murah pula.
“Bagaimana hasil tangkapan hari ini, Kang?” tanya Warjo kepada Joko.
“Ah, sepertinya Kang Warjo juga sudah tahu sendiri jawabannya.”
“Cuacanya juga lagi seperti ini, Kang. Nelayan manapun mungkin bernasib sama, yah walaupun sudah punya jatah rejeki masing-masing.” ucap Wage mengimbuhi jawaban Joko, sembari menghabiskan nasi yang masih tersisa di piringnya.
“Iya, Kang. Ini juga mau pulang, perbekalan sudah mau habis.” ujar Warjo.
“Kalau sampean mau pulang kapan, Kang?” tanya Daslim memegang kemudi perahu.
“Setelah jaring itu diangkat ya pulang, Kang.” jawab Wage menuding jaring yang sudah membentang beberapa jam lalu. Perahu yang ditumpangi Warjo, Daslim dan Nanang pun semakin menjauh dari pandangan Wage dan Joko. Tinggal menunggu hasil tangkapan ikan dari jaring terakhir yang masih tenggelam di tengah lautan.
Gemulai ombak kian memuncak, burung-burung camar kembali berhamburan menuju kapal yang sedang memunguti ikan-ikan besar dari jaringnya. Joko melihat gelagat yang membuat hati keruh dengan tatapan sinis, “Ternyata mereka masih memakai pukat harimau, bisa jadi itu salah satu penyebab nelayan kecil mendapatkan sedikit tangkapan ikan. Duh, Gusti. Semoga hasil tangkapan pada jaring ini tidak mengecewakan.” gumam Joko seraya mempersiapkan tempat untuk jaring yang akan segera ditariknya. Wage masih tetap mengendalikan kemudi dan memegang gancu di tangan kanannya untuk suatu saat membantu penarikan jika ada ikan besar yang tidak bisa ditarik menggunakan jaring saja. Masih tidak menyangka dengan apa yang dilakukan nelayan di kapal itu, Joko mulai menarik jaring perlahan-lahan dengan pandangan matanya yang kosong sampai tersadarkan oleh cipratan air ke mukanya yang berasal dari ikan yang memberontak terjerat jaring. Wage yang tidak jauh dari ikan itu pun segera melayangkan gancunya pada insang ikan agar tidak lolos dari jaring itu. Joko tetap berdiam diri melihat ikan yang terus kelojotan kepanasan.
“Heh, Jok. Itu ikan jangan dibiarkan lama-lama di atas papan lantai, cepat disimpan di peti es itu. Nanti nyemplung ke laut lagi rugi kita, ikan mahal itu. Sedari tadi bengong terus memikirkan apa sih, hah?” bentak Wage sambil melempar gancu ke arahnya sehingga Joko tersentak setelah mendengar dan melihat apa yang dilakukan oleh juragannya merespon keteledorannya itu.
“Duh, mohon maaf, Kang.” jawab Joko agak gugup seperti perampok yang terpergok.
Wage menggelengkan kepala dan mengambil kembali sebilah gancu yang telah dilemparnya, sementara itu Joko melanjutkan menarik jaring sampai ujung dengan lebih fokus dan tenang.
Senyap, lagi-lagi hanya suara air berkecipak dan gemuruh ombak yang terdengar dari telinga mereka karena dua mulut yang cukup lama bungkam. Mesin sudah dimatikan oleh Wage, sementara itu Joko berada di kepala perahu melempar jangkar agar perahu tetap stabil di tempat dan tidak banyak gerak diombang-ambing ombak. Mereka segera menyerang ikan-ikan yang masih terjerat di jaring. Dengan hati-hati melepas benang yang melilit sirip-sirip tajam, seringkali tangan mereka teriris sirip tajam itu sampai meneteskan darah walaupun dalam lindungan sarung tangan. Namun itu juga hal yang biasa bagi mereka, bahkan lebih parah lagi tidak sedikit kabar dari para nelayan yang pernah dibuat beristirahat selama berbulan-bulan sebab terkena sirip atau ekor ikan yang bukan hanya tajam tapi juga beracun. Tampak peti yang berisi ikan tangkapan pertama dan kedua sudah penuh ditambah tangkapan terakhir yang cukup memuaskan, akhirnya peti yang masih kosong pun diisi ikan yang masih berserakan di lantai perahu.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, matahari perlahan berubah warnanya menjadi merah cerah. Setelah merapikan jaring dan barang-barang lain yang masih berantakan, Joko mengangkat jangkar yang masih tenggelam dan diletakan di tempat semula. Wage yang sudah siap memegang kemudi pun memberi isyarat dengan tangan yang berputar, pertanda bahwa Joko disuruh untuk cepat-cepat menghidupkan mesin dengan tangan kanannya yang hitam legam. Searah dengan mata angin, perahu yang hampir sejajar dengan ombak karena beban yang dibawa bertambah berat itu melaju agak tersendat-sendat. Dari mulut Joko terlihat berkomat-kamit seperti sedang melangitkan doa agar mereka sampai rumah dengan selamat. Belaian angin sore yang mulai dingin terasa di sekujur tubuh mereka, pohon-pohon besar merunduk dihinggapi burung-burung pesisir yang tampak dari jauh seperti bunga-bunga cempaka putih bermekaran. Kelopak mata Joko yang cukup lama sayu seketika terbuka lebar dengan tatapan nanar melihat buaya muara yang hampir mirip sebatang kayu mengapung berpapasan dengan perahu yang mereka tumpangi. Menjelang temaram, kedipan mata-mata buaya yang berkoloni di tepi muara itu semacam cahaya kunang-kunang yang beterbangan. Pemandangan itu sudah biasa bagi mereka, sehingga Wage tetap tenang mengemudikan perahu memasuki muara yang gelap dan mencekam. Hanya senter yang terpasang di kepala Wage yang membantunya mengarahkan jalur sungai sampai di dermaga.
Suasana di dermaga tampak sepi, barisan perahu-perahu bersandar di pinggir sungai. Joko yang sedang mengikat perahu di pohon jati melihat ada lelaki remaja yang berlari dari tanggul mendekatinya.
“Bapaaak!” teriak remaja itu sambil berlari kencang menuruni tanggul.
Mendengar lelaki remaja berteriak memanggil dan mendekati Joko, kini ia lebih tahu bahwa lelaki remaja itu adalah Ndaru anak bungsunya sendiri. Usai mengikat perahu di depan dan belakang, Joko melangkah menghadap kedatangan Ndaru dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Dalam pelukan bapaknya, lelaki remaja itu menggerutu.
“Siang tadi Juragan Sunar datang ke rumah untuk menagih hutang, Pak. Katanya jika tiga hari lagi tidak dibayar, rumah kita akan diambil alih sebagai gantinya.”
Joko hanya terdiam mendengar tuturan itu, hatinya merintih dan dari matanya sedikit menitikkan air mata. Wage yang tidak sengaja mendengar ucapan Ndaru itu pun seketika bengong dalam keadaan berdiri di samping mesin perahu.
“Baik, Nak. Ndaru sekarang pulang yah, sudah mau maghrib. Bapak mau mengangkut ikan ke pelelangan dulu untuk dijual, nanti uangnya buat membayar hutang ke Juragan Sunar agar kita tidak diusir dari rumah.” ungkap Joko sambil mengelus rambut Ndaru.
“Iya, Pak.” jawab Ndaru.
“Jangan lupa usai sholat maghrib ngaji di langgar dan belajar bersama kakak atau ibu. Jangan main terus agar jadi anak yang benar dan pintar. Bapak berharap Ndaru kelak jangan menjadi nelayan seperti bapak ini, Ndaru harus lebih sukses lagi dari bapak agar hidup Ndaru tidak sengsara seperti sekarang.” pungkas Joko melepas pelukan anaknya yang hendak melangkah pulang. Mungkin tidak hanya Joko saja, semua nelayan pasti berharap anaknya tidak meneruskan jejak bapaknya menjadi nelayan yang merupakan matapencaharian dengan penghasilan yang tidak seberapa dan seringkali bertaruh nyawa.
Brebes, Agustus 2024
