Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kemerdekaan Dari Pemuda dan Desa

Wednesday, 17 August 2016 | 00:45:00 WIB | 0 Views Last Updated 2016-08-17T14:53:28Z

SawojajarNews- Hari ini 17 Agustus 2016 merupakan hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia dan semua rakyat Indonesia. 71 tahun yang lalu, tepat hari ini bangsa kita memplokamirkan diri sebagai bangsa yang berdikari dengan kedaulatan yang mutlak.

17 Agustus merupakan gerbang bangsa Indonesia menjalankan roda pemerintahan secara independen. Hal itu bisa dicapai dengan adanya akumulasi perjuangan dari segenap elemen bangsa, petani, buruh, pemuda, dan kaum terpelajar bersatu merebut kedaulatan Indonesia.

Sebenarnya, bangsa kita sudah melakukan perlawanan dan perjuangan jauh hari sebelum tanggal 17 Agustus 1945. Namun perjuangan itu dinilai sia-sia karena belum adanya perjuangan yang bersifat kolektif nasional. Perjuangan kala itu sebatas perjuangan lokal, seperti perjuangan rakyat Aceh, yang melawan segala bentuk penjajahan di tanah Serambi Mekah.

Adanya perjuangan secara kolektif pertama kali digagas dengan adanya sumpah pemuda, yaitu ketika berkumpulnya "pemuda-pemuda desa" yang menggagas persatuan bangsa, tanah air, dan bahasa Indonesia pada 28 Oktober 1928.

Maka, sebenarnya kemerdekaan itu, berasal dari perlawanan pemuda disetiap daerah yang diakumulasi menjadi perlawanan dan perjuangan kolektif, yang membawa Bangsa Indonesia sampai di puncak kemerdekaan.

Lalu bagaimana dengan kondisi saat ini? Ketika putra daerah terbaik kini enggan lagi membangun daerahnya, dan lebih memilih merantau. Baik itu mencari ilmu, pekerjaan, maupun pengabdian. Daerah dan desa kini krisis kader pemuda yang siap membangun daerahnya agar "merdeka".

Mungkin ini dilema bagi pemerintah dan pemuda desa, satu sisi daerah tertinggal jauh dari kota dalam hal pembangunan dan kesejahteraan. Masih adanya ketimpangan dan kesenjangan sosial antara masyarakat desa dan masyarakat kota masih sangat terasa di saat Indonesia sudah 71 Tahun merdeka. Di sisi yang lain daerah gagal membuka lapangan pekerjaan yang mengakibatkan pemuda enggan berdiam di daerahnya.

Hal ini menimbulkan dagelan jika kemerdekaan hanya milik orang kota yang perutnya kenyang, mobil mewah, dan modalnya ada dimana-mana. Sedangkan orang desa yang lapar, tidur beralaskan kasur apek, dan bekerja dengan segenap tenaga dengan upah ala kadarnya belum sepenuhnya menikmati kemerdekaan.

Saatnya kaum muda desa kembali ke desa dan membangun desanya untuk kemerdekaan daerah. Ketika daerah-daerah merdeka(makmur dan sejahtera) maka inilah yang dinamakan kemerdekaan kolektif. Kembalikan kemerdekaan Desa, karena sebelum ada negara Indonesia, pemerintah Desa sudah berjaya dengan sistem pemerintah kedaerahan/kesukuan. Bangkit pemuda desa, saatnya bendera perjuangan kita kibarkan lagi.

Mengutip pidato Soekarno. "Jika pemuda yang berusia 21-23 tahun tidak berbuat apa-apa untuk bangsanya, lebih baik digunduli saja".

*Penulis pemuda Desa penjual cilok di kawasan Sawojajar Brebes.

×
Berita Terbaru Update